WHAT'S NEW?
Loading...

Mengungkap Misteri Bulan, Mengapa Ia Dipenuhi Oleh Banyak Kawah?


 Setelah misi Apollo 11 selesai, para ilmuwan khawatir sampel batuan dari Bulan akan dicuri dan dijual ke pasar gelap.

Kekhawatiran ini kemudian membuat NASA meminta agar debu dan batuan yang diambil dari permukaan Bulan tersebut disimpan dalam wadah terkunci rapat saat mereka bertolak ke Inggris. 

Diketahui bahwa setelah sampel Bulan dari misi Apollo 11 dibawa kembali ke Bumi, NASA kemudian mengirimkannya ke beberapa negara di dunia untuk diteliti lebih lanjut. Juga untuk menguatkan hubungan diplomatik antarnegara. 

Dr Grenville Turner, sempat menerima 16 spesimen Bulan tersebut ketika ia bergabung dengan kelompok peneliti Inggris. Menurut keterangan wanita berusia 82 tahun ini, NASA bersikeras menggunakan brankas untuk menyimpan pecahan-pecahan bulan. Mereka juga mengirim petugas keamanan saat kunjungan ke Inggris untuk memastikan sampel ditangani dengan tepat. Ini dilakukan karena NASA khawatir batuan Bulan tersebut akan diperdagangkan secara ilegal.

"Mereka takut dengan pasar gelap yang menjual batuan Bulan. Oleh sebab itu, NASA memiliki aturan ketat soal fasilitas penyimpanan. Mereka juga menyiapkan kontrak legal yang menyatakan bahwa kami tidak boleh menjualnya," papar Turner. 

"Selain itu, NASA mengirim petugas keamanan untuk memeriksa bagaimana kami merawatnya dan banyak sampel saya harus disimpan dalam gelas kaca. Kami juga harus memiliki brankas beserta sistem alarmnya. NASA sebenarnya tidak sulit, mereka hanya ingin meyakinkan bahwa sampel Bulan ini tidak akan dijual di pasar gelap," ungkap Turner. 

Dr Turner berusia 30-an ketika ia meneliti batu yang diambil dari bulan oleh astronot Neil Armstrong dan Buzz Aldrin selama misi Apollo 11 pada Juli 1969.

"Batuan basal yang berasal dari daerah mare, kira-kira berusia antara 3,2 miliar hingga 3,8 miliar. Itu adalah periode tinggi aktivitas vulkanik di Bulan, sebelum jumlahnya menurun," katanya. 

Setelah menyimpan sampel batuan Bulan selama beberapa tahun, Dr Turner pun harus mengembalikannya ke NASA.

"Saya senang pernah terlibat dalam proyek tersebut," kata Turner sambil memperingati 50 tahun misi Apollo.

 Lihatlah ke langit malam yang cerah. Anda dapat melihat beberapa formasi melingkar di permukaan benda angkasa tetangga kita, Bulan. Ini adalah kawah tumbukan, yang berbentuk cekungan melingkar yang dapat ditemukan di permukaan planet-planet.

Sekitar satu abad yang lalu, mereka diduga ada di Bumi meski asal kosmiknya sering dicurigai dan sebagian besar ahli geologi percaya bahwa kawah itu berasal dari gunung berapi.

Sekitar tahun 1960, ahli astrogeologi Amerika Gene Shoemaker, salah satu pendiri ilmu keplanetan, mempelajari dinamika pembentukan kawah di Bumi dan permukaan planet. Dia menyelidiki mengapa planet-planet–termasuk Bulan kita--begitu dipenuhi kawah.

Gambar dari Apollo

Pada tahun 1970, ada lebih dari 50 kawah ditemukan di Bumi, tapi penemuan itu masih dianggap kontroversial, sampai gambar permukaan Bulan dibawa oleh misi Apollo mengonfirmasi bahwa kawah tumbukan adalah proses geologis umum yang terjadi di luar Bumi.


Tidak seperti permukaan Bumi, permukaan Bulan dipenuhi dengan kawah. Ini karena Bumi adalah planet yang dinamis, di mana gempa tektonik, gunung berapi, angin, dan lautan melawan terbentuknya kawah-kawah yang di permukaannya.

Itu tidak berarti Bumi–bahkan Australia–belum pernah terbentur batuan dari ruang angkasa.

Planet kita seharusnya dihantam oleh lebih banyak batu dari luar angkasa ketimbang yang dialami Bulan, sederhananya karena planet kita berukuran lebih besar.

Berbeda dengan Bumi, Bulan kita tidak aktif selama rentang waktu geologis yang panjang serta tidak memiliki atmosfer, yang memungkinkan kawah tumbukan bertahan selama ribuan tahun. Kawah Bulan merekam seluruh sejarah tumbukan yang terjadi dari asal mula Bulan terbentuk hingga saat ini.

Kawah yang besar

Kawah tumbukan terbesar dan tertua di tata surya diyakini berada di Bulan, dan disebut cekungan Kutub Selatan Aitken, tapi kita tidak dapat melihatnya dari Bumi karena ia berada di sisi jauh Bulan. Posisi Bulan terkunci pada rotasi Bumi sehingga sisi yang sama selalu menghadap ke arah kita.

Akan tetapi kawah ini, yang lebarnya lebih dari 2.000 kilometer, terbentuk sebelum adanya tumbukan besar lainnya yang terjadi selama evolusi Bulan. Simulasi tumbukan menunjukkan bahwa kawah Aitken dibentuk oleh asteroid berukuran 150-250 km yang meluncur ke Bulan dengan kecepatan 15-20 km per detik!

Dari Bumi, mata manusia dapat mengamati area berwarna abu-abu yang tampak berbeda dari permukaan Bulan yang menghadap kita. Daerah gelapnya disebut maria, dan lebarnya dapat mencapai lebih dari 1.000 km.

Daerah gelap itu adalah endapan vulkanik yang membentuk lekukan yang diciptakan dari tumbukan besar di Bulan. Letusan gunung berapi ini aktif selama jutaan tahun setelah tumbukan ini terjadi.

Favorit saya adalah cekungan Orientale, kawah tumbukan termuda di Bulan, tetapi diperkirakan terbentuk “hanya” sekitar 3,7 miliar tahun yang lalu.

Tidak ada peristiwa tumbukan besar lainnya yang terjadi di Bulan sejak saat itu. Ini adalah pertanda baik, karena ini menyiratkan tidak ada tubrukan sangat besar yang terjadi di Bumi setelah masa ini dalam sejarah evolusi. (Asteroid yang memusnahkan dinosaurus di Bumi 66 juta tahun yang lalu hanya berukuran sekitar 10-15 km dan meninggalkan kawah yang lebih besar dari ukuran 150 km, yang cukup besar untuk menyebabkan kepunahan massal.)

Seperti yang terlihat dari Bumi

Dengan teleskop kecil, atau teropong mewah, Anda dapat melihat beberapa kawah kompleks di Bulan, seperti Tycho atau kawah-kawah Copernicus.

0 comments:

Post a Comment